Kamis, 18 Februari 2016

LGBT menurut BIBLE

God created Adam and Eve; not Adam and Steve. Got it! Any 2nd grader knows this truth. But once the evil public school system gets hold of them, there's no telling what they'll believe and become. If you teach a child that he or she came from stardust, slime and a gorilla; they are not going to have much self-esteem. Yet, retarded society can't figure out why so-and-so does thus-and-so to who-knows-who? It's really not that hard to figure out!

Public school teachers are not allowed to teach about chastity, virtue or character; but they can give out condoms, show Harry Potter movies, and teach New Age horse-manure to the kids. Public school children are being taught that they're victims of Christianity, the big bad wolf who has come only to oppress and frighten the poor little defenseless homosexuals.

We hear much nowadays from the homosexual community about being “born gay.” TV talkshow hosts, the newsmedia and medical professionals have bought into the deception that some people are naturally born HOMOSEXUAL and can't help it. Nothing could be further from the truth.

To say that some people are born homosexual is to say that God makes mistakes. If God creates a man (with a man's reproductive organ), but that man has God-given natural sexual desires for another man, then God made a mistake. The Bible plainly states in Genesis 1:27, "So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them." There is nothing in the Bible about two men getting married, nor two women. Same-sex marriage is sinful in the eyes of God.

God doesn't make mistakes! No one is "born gay." God created male and female, and they have natural sexual attractions one for the other, because they have male and female reproductive organs and genes, respectively. The very idea of two men having sexual relations is against nature. Homosexuality is a mental-illness caused by spiritual wickedness. In fact, the Word of God states this in Romans 1:24-28. Romans 1:26,27 state: "For this cause God gave them up unto vile affections: for even their women did change the natural use into that which is against nature: And likewise also the men, leaving the natural use of the woman, burned in their lust one toward another; men with men working that which is unseemly, and receiving in themselves that recompence of their error which was meet." Clearly, the Bible teaches that heterosexual attraction is natural; BUT homosexuality is abnormal and against nature. 

God doesn't make mistakes! No one is "born gay." If you tell me that some people are "born gay," then you are saying that my God makes mistakes, and my God doesn't make mistakes. Why would God give two men a "natural" attraction one-for-the-other, but then they can't mate and reproduce because they both have male reproductive organs? That would be absurd. Nature itself teaches us that homosexuality is abnormal, messed up and wrong. If homosexual attraction is "natural," then God made a mistake. God doesn't make mistakes! The truth is that no one is "born gay." It's a choice. Homosexuality is a vile lifestyle of lust and shame that one CHOOSES to live.

It is telling that the only type of society that will embrace homosexuality is a sick-minded society that also embraces feminism, fornication, abortion, divorce, pornography, nudity, witchcraft, idolatry and every other form of sin imaginable. This very fact by itself evidences the degenerate sinful nature of homosexuality, which the Old Testament calls sodomy. God curse is upon the United States because of our wickedness and love for wickedness (evidenced by Hollywood's continued success).

Americans can't get enough evil. It's bad enough that we encounter evil all over society today (Victoria's Secret is no longer a secret!); but then people go buy the daily newspaper to read even more smut and filth; but that's not enough so they watch reality TV shows which feature violence, gore and people masochistically wounding themselves and sadistically hurting others; but that's not enough so they must watch the evening news, owned and run by hypocrites who spread the manure of other people's broken lives, destroyed families and evil of every sort; but that's not enough either, so people go buy lots of HollyWEIRD movies saturated with immoral sex, hateful murders, cursing in God's holy name, blaspheming the name of Jesus Christ, feminism, idolatry, all sorts of crime and homosexuality; but still they crave more in their evil hearts (Jeremiah 17:9), and so they watch Late Night Shows that sing about going to Hell, portraying Jesus as a homosexual voyeur who enjoys watching other homosexuals, and they blaspheme everything that's sacred and holy; and on and on it goes. We are a rat-infested, decadent, wormhole society in America.

Sumber:
http://www.jesus-is-savior.com/Evils%20in%20America/Sodomy/adam_and_steve.htm

#BIBLE #HOLYBIBLE #BIBLESAYS #JESUS #GPPSpetraEnde

Minggu, 01 November 2015

Jangan pernah jemu berdoa

JANGAN PERNAH JEMU BERDOA

Baca:  Lukas 18:1-8

"Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"  Lukas 18:8

Apakah Saudara kehilangan semangat dan tidak berselera lagi menjalani aktivitas di pagi ini?  Biasanya pada waktu pagi Saudara mengatur persembahan bagi Tuhan melalui saat teduh, mengapa pagi ini tidak Saudara lakukan?  Jawabnya mungkin sudah jemu.  Secara umum kata jemu berarti sudah tidak suka lagi karena terlalu sering dilakukan, bosan.  Mengapa jemu?  Mungkin karena doa-doa Saudara belum juga dijawab Tuhan hingga sekarang.  Jawaban itu menyiratkan rasa frustasi dan putus asa karena merasa bahwa saat teduh yang selama ini dilakukan sepertinya tiada hasil.  Benarkah demikian?

     Sebagai pengikut Kristus sejati kita harus bertekun di dalam iman dan tidak pernah berhenti membangun persekutuan denganNya.  Tuhan menghendaki agar kita berdoa dengan tidak jemu-jemu apa pun keadaannya.  Mengapa?  Karena doa adalah kekuatan kita yang dapat melindungi kita dari si jahat.  Bila doa-doa Saudara belum beroleh jawaban jangan pernah menyerah dan putus asa;  jangan pernah merasa jemu berdoa.  Berdoalah terus-menerus sampai doa Saudara dijawab Tuhan, sebab ada tertulis:  "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?"  (ayat 7).  Doa yang tidak jemu-jemu adalah bukti bahwa kita punya iman.  Jangan memberi celah kepada Iblis yang tidak pernah berhenti menghasut, melemahkan dan memprovokasi kita dengan hal-hal negatif.  Jangan pula silau mata dengan tawaran-tawaran dunia yang menjanjikan pertolongan instan yang membuat kehidupan doa kita semakin berkurang.  Belajarlah memahami bahwa waktu kita bukanlah waktu Tuhan.  Pemazmur menasihati,  "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"  (Mazmur 27:14).

     Dalam pembacaan firman hari ini Tuhan memberikan contoh kegigihan seorang janda yang tidak pernah jemu datang kepada hakim yang lalim agar perkaranya dibela.  Janda itu tidak pernah merasa malu atau sungkan, tetapi ia punya tekad yang sangat kuat.

Karena terus datang kepadanya hakim yang lalim itu pun akhirnya luluh hati dan membenarkan perkara janda itu!

Source:
www.airhidupblog.blogspot.com

Selasa, 20 Oktober 2015

Tuhan Yesus tabib yang ajaib

TUHAN YESUS: Tabib Yang Ajaib

Baca:  Lukas 5:27-32

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;"  Lukas 5:31

Secara umum kata tabib memiliki arti:  orang yang pekerjaannya mengobati orang sakit secara tradisional, atau dapat pula disebut dokter.  Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, menjamin keselamatan dan menyediakan sorga sebagai tempat yang pasti bagi kita, tetapi Ia adalah Tuhan yang juga peduli dengan keberadaan hidup kita selama hidup di dunia ini.  Terbukti Dia memberikan Roh Kudus sebagai penolong dan penghibur yang menyertai kita sampai akhir zaman.  Ia juga memperkenalkan diri-Nya sebagai gembala dan tabib.

     Semua orang pasti tahu bahwa pekerjaan tabib adalah menyembuhkan orang yang sakit.  Dengan kata lain yang membutuhkan tabib adalah orang-orang yang sedang sakit atau bermasalah.  Sakit berarti keadaannya tidak normal.  Sakit yang dimaksudkan disini bukan semata-mata sakit secara fisik.  Mungkin secara fisik tubuh kita sehat dan kuat, tapi tanpa kita sadari kerohanian kita sedang sakit:  malas berdoa, malas baca Alkitab, malas beribadah, tidak lagi bersemangat dalam melayani Tuhan, persekutuan kita dengan Tuhan sedang sakit;  tubuh jasmani kita tampak sehat tapi keadaan rumah tangga kita sedang sakit, hubungan antara suami-isteri sedang sakit;  keuangan keluarga sedang sakit;  tubuh jasmani kita sehat tapi hati kita sedang sakit karena menyimpan kepahitan, dendam, sulit mengampuni, kebencian dan sebagainya.

     Dalam kondisi  'sakit'  seperti ini jangan menjadi lemah dan putus asa karena ada pribadi yang siap untuk menolong, menyembuhkan dan memulihkan kita.  Datanglah kepada tabib yang ajaib yaitu Tuhan Yesus.  Jangan sekali-kali mencari pertolongan kepada manusia dan berharap kepadanya, sebab ada tertulis,  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).  Dalam menghadapi persoalan, tindakan iman sangatlah penting yaitu iman dalam perbuatan.  Sia-sialah kita berkata beriman kepada Tuhan jika kita sendiri tidak mau datang kepada-Nya.  Tindakan imanlah yang membuka kuasa mujizat itu bekerja di saat kita memerlukannya.

Ingin disembuhkan dan dipulihkan?  Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan iman, karena Dia adalah tabib yang ajaib dan siap untuk menolong.

www.airhidupblog.blogspot.com

Sabtu, 17 Oktober 2015

TAK ADA YANG TAK MUNGKIN BAGI TUHAN

TAK ADA YANG TAK MUNGKIN BAGI TUHAN

Baca:  Matius 14:13-21

"Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."  Matius 14:15b

Selama masih hidup di dunia ini semua orang takkan dapat menghindarkan diri dari masalah.  Jangan pernah berpikir pula bahwa menjadi pengikut Kristus berarti akan bebas dari masalah, karena Tuhan tidak pernah menjanjikan hal itu.  Bahkan pemazmur menyatakan bahwa  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20).  Adalah hal lumrah kita mengalami masalah, bahkan bisa saja terjadi secara bertubi-tubi, tapi percayalah di dalam Tuhan pasti ada jalan keluar, ada pertolongan, dan tidak dibiarkan kita jatuh tergeletak.  "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."  (Amsal 24:16a), sebab  "...TUHAN menopang tangannya."  (Mazmur 37:24).

     Saat Tuhan Yesus ada bersama mereka murid-murid juga mengalami masalah.  Ketika Tuhan memerintahkan mereka untuk memberi makan lima ribu orang,  "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."  (Matius 14:17).  Secara akal manusia hal itu sangat mustahil.  Itulah sebabnya dengan berbagai alasan murid-murid-Nya berusaha lari dari masalah yang ada.  "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."  (Matius 14:15).  Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus,  "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan...Bawalah ke mari kepada-Ku."  (Matius 14:16, 18).

     Tak ada masalah yang tak terselesaikan bila kita mau menyerahkannya kepada Tuhan Yesus, karena Dia Mahasanggup:  mengubah masalah menjadi berkat, mengubah tidak ada menjadi ada.  Masalah terkadang diijinkan terjadi agar kita belajar berserah kepada Tuhan, tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak membatasi kuasa Tuhan dengan keterbatasan kita.  Ketika lima roti dan dua ikan itu diserahkan kepada Tuhan Yesus, Ia  "...menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak."  (Matius 14:19).  Akhirnya lima ribu orang dikenyangkan, bahkan ada sisa dua belas bakul.  Akhirnya lima ribu orang dikenyangkan, bahkan ada sisa dua belas bakul.

"Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,"  Efesus 3:20

Source:
www.airhidupblog.blogspot.com

Kamis, 08 Oktober 2015

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati

KKR GPPS Sawahan Surabaya 8 Oktober 2015.

Pdt. Debora Kurnianingsih.

- BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENCARI TUHAN DENGAN SEGENAP HATI -

Mazmur 119:2
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.

Beberapa contoh pencari Tuhan:

1. Raja Yosafat
II Tawarikh 20:1-30

Hasil dari mencari Tuhan -->
II Tawarikh 20:29-30 Ketakutan yang dari Allah menghinggapi semua kerajaan negeri-negeri lain, ketika mereka mendengar, bahwa TUHAN yang berperang melawan musuh-musuh Israel.
Dan kerajaan Yosafat amanlah, karena Allahnya mengaruniakan keamanan kepadanya di segala penjuru.

2. Raja Uzia
II Tawarikh 26:1-5

Hasil mencari Tuhan -->
II Tawarikh 26:5 Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.

3. Raja Hizkia
II Tawarikh 31:20-21

Hasil mencari Tuhan -->
II Tawarikh 31:21 Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.

[ Jaminan bagi orang yang mencari Tuhan:
* Yesaya 45:19 Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu member I taken apa yang lurus.

* Mazmur 34:10
Mazmur 34:10 (34-11) Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.

* Mazmur 9:10
Mazmur 9:10 Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN. ]

Selasa, 06 Oktober 2015

Berhemat bukan bearti Kikir

BERHEMAT BUKAN BERARTI KIKIR

Baca:  Amsal 11:24-31

"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan."  Amsal 11:24

Dunia mengajarkan prinsip hidup bahwa jika seseorang ingin hartanya bertambah atau kaya maka ia harus menghemat dan terus memperoleh.  Prinsip berhemat itu bagus karena ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa hemat pangkal kaya.  Hemat artinya kita berhati-hati dalam hal membelanjakan uang, cermat, tidak boros, tidak besar pasak daripada tiang;  namun banyak orang yang karena berhasrat kuat ingin cepat kaya atau memiliki harta berlimpah menghemat begitu rupa dan cenderung menjadi orang yang sangat kikir.  Mereka pun memegang prinsip adalah lebih baik menerima daripada memberi, karena dengan menerima berarti kita memperoleh pemasukan dan keuntungan, sementara kalau memberi berarti harus kehilangan sesuatu, ada yang dikorbankan dan itu merupakan sebuah kerugian besar.

     Prinsip dunia itu sangat bertentangan dengan prinsip firman Tuhan yang mengajarkan:  "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."  (Kisah 20:35).  Justru orang yang diberkati adalah orang yang suka memberi dan menabur harta.  Ayat nas menyatakan bahwa ada yang menyebar harta tetapi justru bertambah kaya.  Sementara ada orang yang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan.  Secara matematis orang yang menyebar harta seharusnya hartanya semakin berkurang dan lambat laun menjadi habis.  Itulah sebabnya orang dunia menganggap ajaran tersebut sangat tidak masuk akal;  dan menyedihkan lagi, banyak orang Kristen yang memilih untuk mengikuti prinsip dunia ini daripada apa yang Tuhan perintahkan.

     Menurut  'Collins English Dictionary', cheapskate  (pelit)  as  'a miserly person'  or  "a stingy hoarder of money and possesions  (often living miserably)":  orang yang kikir atau pelit adalah orang yang sengsara atau menderita, penimbun uang dan harta benda;  hati mereka terikat, diperhamba, dikuasai uang atau kekayaannnya.  Tujuan hidupnya hanyalah mengumpulkan uang dan kekayaan, tapi mereka sendiri tidak menikmatinya karena tidak pernah merasa puas, selalu merasa kurang dengan apa yang ada.  "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia."  (Pengkotbah 5:9). 

Baca:  Amsal 28:20-28

"Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki."  Amsal 28:27

Orang yang kikir atau pelit pikirannya hanya terfokus kepada uang atau hartanya.  "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21), sampai-sampai mereka tidak bisa nyenyak tidur dan selalu gelisah karena terus memikirkan bagaimana cara mengumpulkan uang atau harta sebanyak-banyaknya.  "...kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur."  (Pengkotbah 5:11), tetapi susah sekali kalau harus mengeluarkan uang.  Mengeluarkan uang untuk kepentingan diri sendiri saja serasa berat, apalagi mengeluarkan uang untuk berbagi dengan sesama atau membantu pekerjaan Tuhan, baginya adalah kerugian besar.  Itulah ciri orang yang kikir atau pelit!

     Kepada jemaat di Kolose rasul Paulus memperingatkan dengan keras,  "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,"  (Kolose 3:5).  Orang kikir sama seperti orang serakah.  Berhati-hatilah, Alkitab menyatakan bahwa kikir termasuk dosa penyembahan berhala, karena orang kikir menempatkan uang, materi atau harta lebih dari segala-galanya.  Dengan kata lain ia memberhalakan uang atau kekayaan.  "Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah."  (1 Korintus 6:9b-10).

     Hari ini kita dihadapkan pada dua pilihan:  menjadi orang kikir dan memperkaya diri sendiri tetapi tidak mendapatkan bagian dalam kerajaan sorga, ataukah menjadi orang yang murah hati dan suka memberi.  Murah hati sama artinya berbuat baik kepada diri sendiri  (baca  Amsal 11:17).  Ingat,  "...kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."  (1 Timotius 6:7).  Karena itu Rasul Paulus berpesan kepada Timotius agar ia memperingatkan orang-orang kaya di dunia ini supaya berbuat baik, kaya dalam kebajikan, suka memberi dan berbagi  (baca  1 Timotius 6:18).

"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."  2 Korintus 9:6.


Source: www.airhidupblog.blogspot.com

Selasa, 22 September 2015

Jangan lupa mengucap syukur

Jangan Lupa Mengucap Syukur
Ayat bacaan: Lukas 17:17-18
=======================
"Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

Tidak ada orang yang mau mengalami kesulitan dalam hidup, tapi ada saja waktu dimana kita harus mengalaminya, entah karena kesalahan kita sendiri atau memang merupakan bagian dari sebuah proses pendewasaan diri atau iman. Sebagai orang percaya, kita tahu pentingnya berdoa meminta Tuhan mengangkat kita keluar dari jerat masalah. Ketika Tuhan mengulurkan tanganNya dan membebaskan kita, seharusnya kita pun mengingat kebaikan Tuhan yang telah melepaskan kita. Itu idealnya. Tapi ironisnya tidak banyak orang yang ingat untuk mengucap syukur atas kebaikanNya. Mungkin sekedar ucapan terima kasih dalam satu atau dua doa, tapi kemudian langsung sibuk menikmati kebebasan dan lupa untuk bersyukur. Lalu pada saat keadaan baik-baik saja atau ketika sedang mengalami banyak berkat dalam hidup, apakah kita tetap ingat untuk mengucap syukur? Banyak orang yang terlena menikmati segala kebaikan dengan bersenang-senang dan lupa kepada The Provider, Tuhan yang telah memberikan dan menyediakan itu semua. Lalu bagaimana dengan saat-saat sulit? Apakah kita masih melapangkan hati untuk tetap bersyukur atau kita malah menghujat Tuhan, hanya mau yang baik tapi menolak yang kurang atau tidak baik? Intinya, sejauh mana kita ingat untuk bersyukur? Apakah kita ingat untuk bersyukur dalam setiap doa kita dengan tulus, dalam kondisi apapun?

Idealnya, bukan hanya dalam keadaan baik, tapi dalam keadaan buruk pun kita terus mengucap syukur pada Tuhan. Itu disampaikan Paulus kepada jemaat Tesalonika "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Ini hal yang penting yang seharusnya kita lakukan, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dalam Kristus untuk senantiasa kita ingat dan lakukan dalam hidup kita. Namun banyak orang yang hanya ingat untuk bersyukur untuk sementara waktu saja, lalai, lupa atau malah tidak pernah sama sekali.

Terlena dalam kenyamanan hidup, itu menjadi kebiasaan buruk banyak orang. Bukan hanya sekarang, tapi sudah sejak lama. Salah satu kisah mengenai ini langsung dialami oleh Yesus sendiri ketika Dia bertemu dengan sepuluh orang kusta yang tercatat pada Lukas 17:11-19. Pada masa itu para menderita penyakit kusta tidak mendapat tempat di masyarakat Mereka dikucilkan, disisihkan, dipinggirkan. Tidak ada yang mau dekat dengan mereka. Takut ketularan, jijik, itu tergambar jelas dari cara masyarakat memandang para penderita kusta ini.

Pada suatu kali kesempatan emas pun datang tepat di hadapan mereka. Mereka melihat Yesus berjalan agak jauh di depan mereka. (ay 12). Wow! Itu sebuah kesempatan untuk sembuh! Mereka tahu itu, dan segera memanggil-manggil Yesus. "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"(ay 13). Yesus tanpa berlama-lama segera menyembuhkan/mentahirkan mereka semua. Itu sebuah pemulihan luar biasa yang berlangsung instan. Tapi kemudian, lihatlah berapa orang yang kembali menghadap Yesus. "Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria." (ay 15-16). Berapa jumlahnya? Dari 10 orang, yang tahu bersyukur hanya satu orang. Dan itu malah dilakukan oleh orang Samaria. Kemana 9 orang lagi? Seperti kecenderungan banyak orang, mungkin sedang berlari-lari kegirangan menikmati kesembuhan mereka dan lupa untuk mengucap syukur pada Tuhan yang telah menjamah mereka. "Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (ay 17-18). Itu sangat memalukan. Itu tertulis jelas dalam Alkitab sebagai peringatan, sayangnya hingga hari ini masih saja banyak orang yang lupa melakukannya.

Tokoh-tokoh dalam Alkitab pun punya pergumulannya sendiri sendiri. Namun mereka tahu bahwa kasih setia Allah sanggup melepaskan mereka dari belenggu masalah sebesar apapun sesuai waktunya Tuhan. Daud pun sering mengalami kesulitan. Salah satunya tertulis seperti ini: "Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?" (Mazmur 42:11). Lalu bagaimana reaksi Daud? Luar biasa. Ayat selanjutnya berkata: "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (ay 12). Inilah bentuk sikap yang dikehendaki Allah.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersyukur hari ini atas semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Sudahkah anda memujiNya atas penyertaanNya sepanjang hari ini? Kalaupun situasi masih belum sepenuhnya baik dan kita masih bergumul dengan sesuatu, apakah kita masih bisa memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya atas penyertaan dan penjagaanNya selama masa-masa sulit itu berlangsung? Teladanilah orang Samaria yang disembuhkan dalam kisah yang saya angkat hari ini sebagai bahan perenungan. Datanglah kepada Yesus dan mengucap syukurlah sekarang juga. Bahkan dalam keadaan sulit sekalipun itu harus tetap bisa kita lakukan, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam Kristus. Belajarlah untuk terbiasa untuk mengucap syukur dalam keadaan apapun. Tuhan berfirman, meskipun kita terjatuh, kita tidak akan sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangan kita. (Mazmur 37:24).  Ingatlah bahwa seperti halnya kepada 10 orang kusta, Dia pun sanggup memulihkan kita. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar" (Yesaya 59:1) Itu janji Tuhan. Inilah yang menjadi janji Tuhan ketika kita tetap tahu untuk bersyukur dan berterimakasih meski dalam keadaan sulit sekalipun. Jadi tidak perlu merasa tertekan, dan teruslah belajar untuk rajin mengucap syukur kepada Tuhan. Bagi yang sedang dalam keadaan baik, mengucap syukurlah senantiasa dan muliakan Tuhan dengan segala yang anda lakukan.

"Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya." (Ibrani 13:15)