Selasa, 20 Oktober 2015

Tuhan Yesus tabib yang ajaib

TUHAN YESUS: Tabib Yang Ajaib

Baca:  Lukas 5:27-32

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;"  Lukas 5:31

Secara umum kata tabib memiliki arti:  orang yang pekerjaannya mengobati orang sakit secara tradisional, atau dapat pula disebut dokter.  Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, menjamin keselamatan dan menyediakan sorga sebagai tempat yang pasti bagi kita, tetapi Ia adalah Tuhan yang juga peduli dengan keberadaan hidup kita selama hidup di dunia ini.  Terbukti Dia memberikan Roh Kudus sebagai penolong dan penghibur yang menyertai kita sampai akhir zaman.  Ia juga memperkenalkan diri-Nya sebagai gembala dan tabib.

     Semua orang pasti tahu bahwa pekerjaan tabib adalah menyembuhkan orang yang sakit.  Dengan kata lain yang membutuhkan tabib adalah orang-orang yang sedang sakit atau bermasalah.  Sakit berarti keadaannya tidak normal.  Sakit yang dimaksudkan disini bukan semata-mata sakit secara fisik.  Mungkin secara fisik tubuh kita sehat dan kuat, tapi tanpa kita sadari kerohanian kita sedang sakit:  malas berdoa, malas baca Alkitab, malas beribadah, tidak lagi bersemangat dalam melayani Tuhan, persekutuan kita dengan Tuhan sedang sakit;  tubuh jasmani kita tampak sehat tapi keadaan rumah tangga kita sedang sakit, hubungan antara suami-isteri sedang sakit;  keuangan keluarga sedang sakit;  tubuh jasmani kita sehat tapi hati kita sedang sakit karena menyimpan kepahitan, dendam, sulit mengampuni, kebencian dan sebagainya.

     Dalam kondisi  'sakit'  seperti ini jangan menjadi lemah dan putus asa karena ada pribadi yang siap untuk menolong, menyembuhkan dan memulihkan kita.  Datanglah kepada tabib yang ajaib yaitu Tuhan Yesus.  Jangan sekali-kali mencari pertolongan kepada manusia dan berharap kepadanya, sebab ada tertulis,  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).  Dalam menghadapi persoalan, tindakan iman sangatlah penting yaitu iman dalam perbuatan.  Sia-sialah kita berkata beriman kepada Tuhan jika kita sendiri tidak mau datang kepada-Nya.  Tindakan imanlah yang membuka kuasa mujizat itu bekerja di saat kita memerlukannya.

Ingin disembuhkan dan dipulihkan?  Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan iman, karena Dia adalah tabib yang ajaib dan siap untuk menolong.

www.airhidupblog.blogspot.com

Sabtu, 17 Oktober 2015

TAK ADA YANG TAK MUNGKIN BAGI TUHAN

TAK ADA YANG TAK MUNGKIN BAGI TUHAN

Baca:  Matius 14:13-21

"Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."  Matius 14:15b

Selama masih hidup di dunia ini semua orang takkan dapat menghindarkan diri dari masalah.  Jangan pernah berpikir pula bahwa menjadi pengikut Kristus berarti akan bebas dari masalah, karena Tuhan tidak pernah menjanjikan hal itu.  Bahkan pemazmur menyatakan bahwa  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20).  Adalah hal lumrah kita mengalami masalah, bahkan bisa saja terjadi secara bertubi-tubi, tapi percayalah di dalam Tuhan pasti ada jalan keluar, ada pertolongan, dan tidak dibiarkan kita jatuh tergeletak.  "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."  (Amsal 24:16a), sebab  "...TUHAN menopang tangannya."  (Mazmur 37:24).

     Saat Tuhan Yesus ada bersama mereka murid-murid juga mengalami masalah.  Ketika Tuhan memerintahkan mereka untuk memberi makan lima ribu orang,  "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."  (Matius 14:17).  Secara akal manusia hal itu sangat mustahil.  Itulah sebabnya dengan berbagai alasan murid-murid-Nya berusaha lari dari masalah yang ada.  "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."  (Matius 14:15).  Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus,  "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan...Bawalah ke mari kepada-Ku."  (Matius 14:16, 18).

     Tak ada masalah yang tak terselesaikan bila kita mau menyerahkannya kepada Tuhan Yesus, karena Dia Mahasanggup:  mengubah masalah menjadi berkat, mengubah tidak ada menjadi ada.  Masalah terkadang diijinkan terjadi agar kita belajar berserah kepada Tuhan, tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak membatasi kuasa Tuhan dengan keterbatasan kita.  Ketika lima roti dan dua ikan itu diserahkan kepada Tuhan Yesus, Ia  "...menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak."  (Matius 14:19).  Akhirnya lima ribu orang dikenyangkan, bahkan ada sisa dua belas bakul.  Akhirnya lima ribu orang dikenyangkan, bahkan ada sisa dua belas bakul.

"Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,"  Efesus 3:20

Source:
www.airhidupblog.blogspot.com

Kamis, 08 Oktober 2015

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati

KKR GPPS Sawahan Surabaya 8 Oktober 2015.

Pdt. Debora Kurnianingsih.

- BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENCARI TUHAN DENGAN SEGENAP HATI -

Mazmur 119:2
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.

Beberapa contoh pencari Tuhan:

1. Raja Yosafat
II Tawarikh 20:1-30

Hasil dari mencari Tuhan -->
II Tawarikh 20:29-30 Ketakutan yang dari Allah menghinggapi semua kerajaan negeri-negeri lain, ketika mereka mendengar, bahwa TUHAN yang berperang melawan musuh-musuh Israel.
Dan kerajaan Yosafat amanlah, karena Allahnya mengaruniakan keamanan kepadanya di segala penjuru.

2. Raja Uzia
II Tawarikh 26:1-5

Hasil mencari Tuhan -->
II Tawarikh 26:5 Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.

3. Raja Hizkia
II Tawarikh 31:20-21

Hasil mencari Tuhan -->
II Tawarikh 31:21 Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.

[ Jaminan bagi orang yang mencari Tuhan:
* Yesaya 45:19 Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu member I taken apa yang lurus.

* Mazmur 34:10
Mazmur 34:10 (34-11) Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.

* Mazmur 9:10
Mazmur 9:10 Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN. ]

Selasa, 06 Oktober 2015

Berhemat bukan bearti Kikir

BERHEMAT BUKAN BERARTI KIKIR

Baca:  Amsal 11:24-31

"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan."  Amsal 11:24

Dunia mengajarkan prinsip hidup bahwa jika seseorang ingin hartanya bertambah atau kaya maka ia harus menghemat dan terus memperoleh.  Prinsip berhemat itu bagus karena ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa hemat pangkal kaya.  Hemat artinya kita berhati-hati dalam hal membelanjakan uang, cermat, tidak boros, tidak besar pasak daripada tiang;  namun banyak orang yang karena berhasrat kuat ingin cepat kaya atau memiliki harta berlimpah menghemat begitu rupa dan cenderung menjadi orang yang sangat kikir.  Mereka pun memegang prinsip adalah lebih baik menerima daripada memberi, karena dengan menerima berarti kita memperoleh pemasukan dan keuntungan, sementara kalau memberi berarti harus kehilangan sesuatu, ada yang dikorbankan dan itu merupakan sebuah kerugian besar.

     Prinsip dunia itu sangat bertentangan dengan prinsip firman Tuhan yang mengajarkan:  "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."  (Kisah 20:35).  Justru orang yang diberkati adalah orang yang suka memberi dan menabur harta.  Ayat nas menyatakan bahwa ada yang menyebar harta tetapi justru bertambah kaya.  Sementara ada orang yang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan.  Secara matematis orang yang menyebar harta seharusnya hartanya semakin berkurang dan lambat laun menjadi habis.  Itulah sebabnya orang dunia menganggap ajaran tersebut sangat tidak masuk akal;  dan menyedihkan lagi, banyak orang Kristen yang memilih untuk mengikuti prinsip dunia ini daripada apa yang Tuhan perintahkan.

     Menurut  'Collins English Dictionary', cheapskate  (pelit)  as  'a miserly person'  or  "a stingy hoarder of money and possesions  (often living miserably)":  orang yang kikir atau pelit adalah orang yang sengsara atau menderita, penimbun uang dan harta benda;  hati mereka terikat, diperhamba, dikuasai uang atau kekayaannnya.  Tujuan hidupnya hanyalah mengumpulkan uang dan kekayaan, tapi mereka sendiri tidak menikmatinya karena tidak pernah merasa puas, selalu merasa kurang dengan apa yang ada.  "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia."  (Pengkotbah 5:9). 

Baca:  Amsal 28:20-28

"Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki."  Amsal 28:27

Orang yang kikir atau pelit pikirannya hanya terfokus kepada uang atau hartanya.  "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21), sampai-sampai mereka tidak bisa nyenyak tidur dan selalu gelisah karena terus memikirkan bagaimana cara mengumpulkan uang atau harta sebanyak-banyaknya.  "...kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur."  (Pengkotbah 5:11), tetapi susah sekali kalau harus mengeluarkan uang.  Mengeluarkan uang untuk kepentingan diri sendiri saja serasa berat, apalagi mengeluarkan uang untuk berbagi dengan sesama atau membantu pekerjaan Tuhan, baginya adalah kerugian besar.  Itulah ciri orang yang kikir atau pelit!

     Kepada jemaat di Kolose rasul Paulus memperingatkan dengan keras,  "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,"  (Kolose 3:5).  Orang kikir sama seperti orang serakah.  Berhati-hatilah, Alkitab menyatakan bahwa kikir termasuk dosa penyembahan berhala, karena orang kikir menempatkan uang, materi atau harta lebih dari segala-galanya.  Dengan kata lain ia memberhalakan uang atau kekayaan.  "Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah."  (1 Korintus 6:9b-10).

     Hari ini kita dihadapkan pada dua pilihan:  menjadi orang kikir dan memperkaya diri sendiri tetapi tidak mendapatkan bagian dalam kerajaan sorga, ataukah menjadi orang yang murah hati dan suka memberi.  Murah hati sama artinya berbuat baik kepada diri sendiri  (baca  Amsal 11:17).  Ingat,  "...kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."  (1 Timotius 6:7).  Karena itu Rasul Paulus berpesan kepada Timotius agar ia memperingatkan orang-orang kaya di dunia ini supaya berbuat baik, kaya dalam kebajikan, suka memberi dan berbagi  (baca  1 Timotius 6:18).

"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."  2 Korintus 9:6.


Source: www.airhidupblog.blogspot.com

Selasa, 22 September 2015

Jangan lupa mengucap syukur

Jangan Lupa Mengucap Syukur
Ayat bacaan: Lukas 17:17-18
=======================
"Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

Tidak ada orang yang mau mengalami kesulitan dalam hidup, tapi ada saja waktu dimana kita harus mengalaminya, entah karena kesalahan kita sendiri atau memang merupakan bagian dari sebuah proses pendewasaan diri atau iman. Sebagai orang percaya, kita tahu pentingnya berdoa meminta Tuhan mengangkat kita keluar dari jerat masalah. Ketika Tuhan mengulurkan tanganNya dan membebaskan kita, seharusnya kita pun mengingat kebaikan Tuhan yang telah melepaskan kita. Itu idealnya. Tapi ironisnya tidak banyak orang yang ingat untuk mengucap syukur atas kebaikanNya. Mungkin sekedar ucapan terima kasih dalam satu atau dua doa, tapi kemudian langsung sibuk menikmati kebebasan dan lupa untuk bersyukur. Lalu pada saat keadaan baik-baik saja atau ketika sedang mengalami banyak berkat dalam hidup, apakah kita tetap ingat untuk mengucap syukur? Banyak orang yang terlena menikmati segala kebaikan dengan bersenang-senang dan lupa kepada The Provider, Tuhan yang telah memberikan dan menyediakan itu semua. Lalu bagaimana dengan saat-saat sulit? Apakah kita masih melapangkan hati untuk tetap bersyukur atau kita malah menghujat Tuhan, hanya mau yang baik tapi menolak yang kurang atau tidak baik? Intinya, sejauh mana kita ingat untuk bersyukur? Apakah kita ingat untuk bersyukur dalam setiap doa kita dengan tulus, dalam kondisi apapun?

Idealnya, bukan hanya dalam keadaan baik, tapi dalam keadaan buruk pun kita terus mengucap syukur pada Tuhan. Itu disampaikan Paulus kepada jemaat Tesalonika "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Ini hal yang penting yang seharusnya kita lakukan, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dalam Kristus untuk senantiasa kita ingat dan lakukan dalam hidup kita. Namun banyak orang yang hanya ingat untuk bersyukur untuk sementara waktu saja, lalai, lupa atau malah tidak pernah sama sekali.

Terlena dalam kenyamanan hidup, itu menjadi kebiasaan buruk banyak orang. Bukan hanya sekarang, tapi sudah sejak lama. Salah satu kisah mengenai ini langsung dialami oleh Yesus sendiri ketika Dia bertemu dengan sepuluh orang kusta yang tercatat pada Lukas 17:11-19. Pada masa itu para menderita penyakit kusta tidak mendapat tempat di masyarakat Mereka dikucilkan, disisihkan, dipinggirkan. Tidak ada yang mau dekat dengan mereka. Takut ketularan, jijik, itu tergambar jelas dari cara masyarakat memandang para penderita kusta ini.

Pada suatu kali kesempatan emas pun datang tepat di hadapan mereka. Mereka melihat Yesus berjalan agak jauh di depan mereka. (ay 12). Wow! Itu sebuah kesempatan untuk sembuh! Mereka tahu itu, dan segera memanggil-manggil Yesus. "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"(ay 13). Yesus tanpa berlama-lama segera menyembuhkan/mentahirkan mereka semua. Itu sebuah pemulihan luar biasa yang berlangsung instan. Tapi kemudian, lihatlah berapa orang yang kembali menghadap Yesus. "Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria." (ay 15-16). Berapa jumlahnya? Dari 10 orang, yang tahu bersyukur hanya satu orang. Dan itu malah dilakukan oleh orang Samaria. Kemana 9 orang lagi? Seperti kecenderungan banyak orang, mungkin sedang berlari-lari kegirangan menikmati kesembuhan mereka dan lupa untuk mengucap syukur pada Tuhan yang telah menjamah mereka. "Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (ay 17-18). Itu sangat memalukan. Itu tertulis jelas dalam Alkitab sebagai peringatan, sayangnya hingga hari ini masih saja banyak orang yang lupa melakukannya.

Tokoh-tokoh dalam Alkitab pun punya pergumulannya sendiri sendiri. Namun mereka tahu bahwa kasih setia Allah sanggup melepaskan mereka dari belenggu masalah sebesar apapun sesuai waktunya Tuhan. Daud pun sering mengalami kesulitan. Salah satunya tertulis seperti ini: "Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?" (Mazmur 42:11). Lalu bagaimana reaksi Daud? Luar biasa. Ayat selanjutnya berkata: "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (ay 12). Inilah bentuk sikap yang dikehendaki Allah.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersyukur hari ini atas semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Sudahkah anda memujiNya atas penyertaanNya sepanjang hari ini? Kalaupun situasi masih belum sepenuhnya baik dan kita masih bergumul dengan sesuatu, apakah kita masih bisa memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya atas penyertaan dan penjagaanNya selama masa-masa sulit itu berlangsung? Teladanilah orang Samaria yang disembuhkan dalam kisah yang saya angkat hari ini sebagai bahan perenungan. Datanglah kepada Yesus dan mengucap syukurlah sekarang juga. Bahkan dalam keadaan sulit sekalipun itu harus tetap bisa kita lakukan, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam Kristus. Belajarlah untuk terbiasa untuk mengucap syukur dalam keadaan apapun. Tuhan berfirman, meskipun kita terjatuh, kita tidak akan sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangan kita. (Mazmur 37:24).  Ingatlah bahwa seperti halnya kepada 10 orang kusta, Dia pun sanggup memulihkan kita. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar" (Yesaya 59:1) Itu janji Tuhan. Inilah yang menjadi janji Tuhan ketika kita tetap tahu untuk bersyukur dan berterimakasih meski dalam keadaan sulit sekalipun. Jadi tidak perlu merasa tertekan, dan teruslah belajar untuk rajin mengucap syukur kepada Tuhan. Bagi yang sedang dalam keadaan baik, mengucap syukurlah senantiasa dan muliakan Tuhan dengan segala yang anda lakukan.

"Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya." (Ibrani 13:15)

Senin, 14 September 2015

TUHAN yang memperlengkapi

TUHAN yang memperlengkapi
Ayat bacaan: Efesus 4:11-12
==============================
"Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus"
Apa saja yang kita butuhkan dalam menjalani panggilan? Masing-masing orang punya panggilannya sendiri yang tentu saja memerlukan kebutuhan yang berbeda. Selain talenta, keahlian dan pengetahuan, tidak jarang pula kita membutuhkan berbagai kelengkapan lainnya agar bisa maksimal dalam menjalankannya. Seperti yang saya sampaikan kemarin, banyak orang yang lari dari panggilan, menolaknya karena beralasan bahwa mereka tidak sanggup. Kurang mampu, kurang waktu, kurang tenaga, kurang fasilitas dan kurang lainnya akan menjadi dasar alasan untuk menolak. Kita sering menutup mata dari apa yang sebenarnya sudah ada pada kita dan mengarahkan pandangan hanya kepada apa yang kita belum/tidak punya. Padahal, beranikah kita memberi pertanggungjawaban kelak kalau panggilan yang sudah diberikan Tuhan tidak pernah kita lakukan sampai akhir masa hidup kita di dunia? Apakah ada firman Tuhan yang secara jelas menyatakan bahwa Tuhan ternyata sudah memperlengkapi masing-masing orang menurut kebutuhannya untuk menjalani panggilan tersebut?
Sebelum kita sampai kesana, ketahuilah bahwa Tuhan menyuruh kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besarNya di bumi ini. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Seperti yang saya sebutkan, karena hanya melihat apa yang belum ada, kita kerap lupa bahwa ketika Allah menyuruh kita, Dia sebenarnya sudah melengkapi kita dengan segala sesuatu, dan akan terus melengkapi kita lebih lagi. Tuhan bahkan telah memberikan Roh Kudus yang akan selalu membantu dalam pelaksanaannya, sehingga sebenarnya bukan kehebatan dan kemampuan kita yang utama, namun kemauan dan kesungguhan kitalah yang diinginkan Tuhan. Untuk bisa melaksanakannya, kita semua telah Dia perlengkapi dengan baik.
Musa pernah mengalami keraguan seperti ini ketika ia pertama kali menerima penugasan dari Tuhan. Musa berulangkali menolak karena merasa tidak mampu. Musa terus berbantah terhadap perintah Tuhan, semua itu bisa kita baca dalam Keluaran 2:23 hingga Keluaran 4:17. Musa merasa tidak mampu, punya banyak kelemahan, tidak mampu berbicara dengan baik dan terus diliputi keraguan bagaimana bangsa Israel yang besar itu mau mempercayainya. Musa melupakan satu hal, yaitu bahwa ketika Tuhan menyuruh, Dia sudah melengkapi segalanya, dan akan terus menuntun hingga pekerjaan yang dilakukan akan bisa berhasil. Tuhan terus meyakinkan Musa bahwa Dia sendiri akan menyertai dan melengkapi Musa dengan segala sesuatu yang diperlukan. Kita tahu bahwa akhirnya terbukti Musa sanggup memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.
Seringkali kita merasa tidak mampu atau belum sanggup melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak sekolah Alkitab, masih terlalu muda, punya banyak kesibukan, belum siap, belum terpanggil dan sebagainya. Padahal ketika Tuhan memberikan panggilanNya, Dia selalu melengkapi kita dengan apapun yang kita butuhkan. Kita bisa melihat hal ini dalam kitab Efesus. "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:11-12).
Petrus pun mengingatkan hal yang sama. "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." (1 Petrus 5:10).Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita semua ketika kita taat untuk melakukan tugasnya.
Apapun panggilan yang ada pada kita, Tuhan selalu memperlengkapi sepenuhnya agar kita mampu menyelesaikannya. Ada berbagai karunia rohani atau kemampuan khusus bagi masing-masing orang yang percaya kepadaNya dan mau melakukan pelayanan demi kemuliaanNya. Semua dengan jelas telah difirmankan Tuhan melalui Paulus. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan." (1 Korintus 12:4-5). Rinciannya adalah sebagai berikut: "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." (ay 8-10). Dan Paulus menutupnya dengan kembali mengingatkan bahwa semua itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama. Satu Roh, satu Tuhan, dan karunia-karunia itu diberikan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. (ay 11).
Mungkin saja ada perlengkapan dan kebutuhan yang saat ini tampaknya belum anda miliki. Tetapi sudahkah anda memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada anda? Dengan apa yang ada mungkin anda bisa mulai dahulu sembari menunggu sampai semua yang dibutuhkan terpenuhi. Kita harus benar-benar memeriksa apa yang ada, dan apa yang bisa mulai kita kerjakan. Seringkali dalam melengkapi kita Tuhan tidak memberikan semuanya langsung jadi tetapi menyediakan segala yang dibutuhkan dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Jika diibaratkan, Tuhan lebih suka menyediakan kail dan ikan di laut ketimbang ikan bakar yang langsung terhidang di meja makan.
Apabila diantara teman-teman ada yang masih merasa tidak mampu meski sudah mendapat panggilan dari Tuhan melakukan sesuatu, jangan ragu dan mulailah segera. Gereja dimana anda tumbuh tetap membutuhkan pengerja-pengerja untuk melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini, lebih dari itu, lewat apapun anda tetap bisa melayani Tuhan, baik dalam pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Tidak perlu takut tidak mampu, karena Tuhan adalah Allah yang akan terus memperlengkapi segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bisa mengerjakannya dengan cemerlang.



Sumber: www.renuganharianonline.com

Minggu, 13 September 2015

Didalam terang Allah

Baca:  Kejadian 32:22-32

"...Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"  Kejadian 32:30

Allah memakai terang-Nya untuk menunjukkan kondisi kita sebenarnya.  Ini yang membuat kita bertekuk lutut.  Seperti yang dilakukan-Nya pada Yakub di Pniel, Tuhan dalam kemurahan-Nya harus membawa kita ke sana, di mana terlihat apa akar dan motif kita sebenarnya dalam mengikut-Nya.  Allah berurusan dengan jati diri kita.  Dalam terang Allah itulah kita harus jujur siapa kita sebenarnya.  "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).

     Kepura-puraan bukanlah kekristenan.  Kita mungkin sangat ingin tampil beda, namun tidak ada yang dapat menghalangi Allah melihat kita yang berpura-pura menjadi bukan diri kita.  Jangan mencoba menjadi seseorang, jadilah diri sendiri.  Semakin tampak rendah hati semakin orang menunjukkan harga diri, karena itu Tuhan harus terus melanjutkan pekerjaan-Nya.  Karena bukan kepura-puraan kita tetapi hanya jamahan Tuhan yang bisa menghasilkan transformasi.  Jadi jika ini karya Tuhan maka perubahannya memiliki tujuan dan arah yang pasti.

     Dia mulai dengan Yakub dan berakhir dengan seorang Israel.  Yakub berarti  'penjegal/orang yang mengakali untuk mengambil posisi orang lain', dan Israel berarti  'Allah bergumul'.  Yakub bergumul dengan  'seseorang'.  Lalu kata orang itu,  "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."  (Kejadian 32:28).  Allah memberkati Yakub.  "Firman Allah kepadanya: 'Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.' Maka Allah menamai dia Israel. Lagi firman Allah kepadanya: 'Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu. Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu.'"  (Kejadian 35:10-12).

Ketika berjumpa pribadi dengan Kristus hidup kita diubahkan dan kita akan diberkati dengan berlimpah.




Sumber:
Renungan harian  http://airhidupblog.blogspot.co.id/2015/09/di-dalam-terang-allah.html?m=1