Sabtu, 20 Mei 2017

To be or not to be

~~ to be or not to be ~~

Ayat bacaan: 2 Korintus 1:8-9a
============================
"Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati."


William Shakespeare tidak diragukan lagi merupakan pujangga dan penulis terbesar dalam sejarah literatur Inggris. Masa hidupnya adalah di pertengahan tahun 1500-an sampai awal 1600-an. Sudah sangat lama, tapi karya-karyanya masih dikenang orang hingga hari ini. Film dan teater masih menampilkan karya-karya terkenalnya sampai detik ini. Beberapa judul tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, seperti Romeo and Juliet, Hamlet danMidsummer Night's Dream. Selain karya-karya monumental dan abadi, ada banyak pula quote atau kutipan kalimat yang terkenal sepanjang masa. Salah satunya tentu saja "To be or not to be, that is the question."

Quote ini berasal dari naskah Hamlet. Banyak yang mengira kalimat ini mengacu pada kebingungan orang untuk melakukan sesuatu atau memilih/memutuskan sesuatu. Tidak terlalu salah, tapi lebih tepatnya kalimat ini sebenarnya mengacu kepada kepedihan yang dirasa sang tokoh utama yang mengarahkannya pada dua pilihan, apakah ia mau terus hidup atau tidak. Pangeran bernama Hamlet merasakan kepedihan luar biasa sewaktu pamannya membunuh ayahnya, dan menikahi ibunya. Begitu sakit dan perih rasanya, hingga ia sempat berpikir haruskah ia terus hidup ("to be") atau mengakhiri saja hidupnya, ("or not to be").

Apakah anda pernah atau mungkin sedang merasakan rasa sakit dan penderitaan yang begitu berat yang rasanya tidak lagi tertahankan? Ada kalanya kita merasakan rasa sakit yang tidak terperikan, begitu perihnya sehingga kita mulai merasa putus asa dan perlahan mulai kehilangan harapan. Pada kenyataannya ada banyak orang yang memilih seperti Hamlet, yaitu mengakhiri hidupnya karena tidak tahan lagi menderita. Orang memilih jalan pintas yang fatal, mengakhiri hidupnya berharap mereka bisa segera terbebas dari rasa sakit, dan itu tentu karena mereka merasa tidak lagi punya harapan. Padahal keputusan seperti itu justru akan membawa penderitaan yang lebih menyakitkan lagi untuk selamanya. Kehilangan harapan membuat orang bisa melakukan itu. Karenanya penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita tetap punya harapan, bukan kepada hal-hal yang tidak cukup kuat melainkan kepada Tuhan.

Disaat banyak orang yang tidak tahan dan memilih jalan keliru, sikap berbeda bisa kita temukan dari Paulus. Paulus dikenal militan dalam menjalankan tugasnya mewartakan Injil setelah bertobat. Pada suatu saat ia merasakan hal ini. Tekanan begitu berat. Ancaman ia dapati dimana-mana. Dia didera, ditangkap, diancam akan dibunuh.

Paulus pernah merinci berbagai penderitaan yang ia alami dalam pelayanannya. "..Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2 Korintus 11:-23-27).

Sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya Paulus, tekanan bertubi-tubi ini pada suatu ketika bisamembuatnya lemah. Ia mengakui hal itu kepada jemaat di Korintus. "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati." (2 Korintus 1:8-9a).

Sebagai manusia biasa sama seperti kita, Paulus pun pernah mengalami keputus-asaan. Bedanya, ia tidak membiarkan dirinya dikuasai rasa putus asa dan kehilangan harapan terus menerus. Paulus dengan cepat mengubah fokusnya. Ia kembali kepada pemikiran positif yang berpegang sepenuhnya kepada Allah. Paulus mampu melihat sisi lain dari sebuah penderitaan, yaitu sebagai pelajaran agar kita tidak bergantung kepada diri sendiri melainkan kepada Tuhan. "Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (ay 9b).


Penderitaan memang menyakitkan, dan terkadang ketika itu terasa begitu berat, kita merasa tidak sanggup lagi memikulnya. Tapi seperti yang terjadi pada Paulus, Tuhan sesungguhnya telah memberikan kasih karuniaNya secara cukup, yang akan memampukan kita untuk bisa bertahan ketika sedang berjalan dalam lembah penderitaan. "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Renungkanlah. Justru dalam tekanan beratlah sebenarnya kita bisa melihat kuasa Tuhan yang sempurna. Dalam kelemahan kitalah kita akan mampu menyaksikan kuasa Tuhan yang sesungguhnya, yang mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia.

Penderitaan yang dialami Paulus tidaklah ringan. Bayangkan, ketika ia jahat ia begitu berkuasa, tapi setelah bertobat justru hidupnya penuh tekanan. Banyak orang akan segera menyangsikan kebenaran jika menjadi Paulus dan mengalami apa yang ia alami waktu itu, tapi tidak demikian halnya dengan dirinya. Dia tahu bahwa apa yang menanti di depan sana adalah jauh lebih besar ketimbang penderitaan-penderitaan yang ia alami di dunia yang sifatnya sementara ini. Paulus mengarahkan pandangannya jauh ke depan, dan di saat yang sama ia terus berpegang dengan kepercayaan penuh kepada Kristus.

Beratkah penderitaannya? Tentu saja. Meski demikian, Paulus masih mampu berkata "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Dia tahu bahwa kasih karunia Allah itu sebenarnya cukup untuk dipakai menanggung beban penderitaan. Pencobaan-pencobaan yang kita alami pun tidak akan melebihi kekuatan kita sendiri. Tuhan tahu sampai dimana kita sanggup bertahan, dan pada saat yang tepat ia pasti memberikan jalan keluar.

Sangatlah penting bagi kita untuk memastikan bahwa pengharapan jangan sampai hilang dari kita. Orang yang masih punya pengharapan akan punya alasan untuk terus berjuang. Kemarin kita sudah melihat bahwa Alkitab mengatakan "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.." (Ibrani 6:19). Pengharapan dapat berfungsi sebagai jangkar yang membuat kita bisa terus tertambat dan tidak oleng atau hanyut lantas karam. Alkitab juga mengingatkan kita bahwa kita harus menjaga tiga hal penting dalam hidup kita yaitu faith, hope and love. Iman, pengharapan dan kasih.

Kita sulit terus punya pengharapan di masa sulit kalau kita tidak punya iman. Sebaliknya, pengharapan yang kokoh akan terus menumbuhkan dan menguatkan iman kita. Lantas jangan lupa pula menaruh pengharapan ke tempat yang benar, yaitu Tuhan. Kenapa? Sebab, selain kuasa Tuhan tidak terbatas dan sanggup mengatasi kemustahilan, kita tahu pula bahwa Allah yang menjanjikannya adalah Allah yang setia (Ibrani 10:23).

Rasa sakit akibat penderitaan bisa membuat kita merasa bahwa hidup ini tidak lagi berharga untuk dijalani. Dalam tekanan berat, rasa putus asa akan mulai mencoba menguasai kita, dan kita pun bisa terjebak pada pemikiran sempit untuk menyerah, bahkan menutup lembaran hidup secara sepihak. Jangan biarkan hal itu terjadi, dan jangan melakukan tindakan fatal yang hanya akan membawa kita kepada sebuah penyesalan selamanya. Berhentilah mengandalkan kekuatan diri sendiri, orang lain atau lainnya, gGantikan itu dengan mengandalkan Tuhan. Ubah pandangan anda dengan sebuah perspektif baru, letakkan keyakinan kita dalam Tuhan.

Selama kita masih berjalan di dunia ini, penderitaan akan menghampiri kita pada suatu waktu. Tetapi kita harus tahu bahwa Tuhan akan memampukan kita untuk menanggungnya dan jalan keluar dari Tuhan pada saatnya akan turun atas kita. Jika Hamlet berpikir "to be or not to be", terus hidup atau mati saja, kita sebagai anak-anak Tuhan hendaklah menyadari bahwa selalu ada alasan untuk terus hidup. Selalu ada banyak alasan untuk terus memilih terus hidup dengan pengharapan, iman dan kasih, tak peduli sesulit apapun yang kita alami.

There's always hope as long as we have God by our side

--------------------------------------------

Source: www.renunganharianonline.com


Rabu, 22 Februari 2017

Kekayaan KRISTUS yang tidak terduga

Orang yang menyadari bahwa ia menumpang di bumi, bahwa segala sesuatu akan ditinggalkan, bahwa ia hanya sementara di bumi ini, dapat menilai kekayaan Kerajaan Surga secara lebih benar. Tetapi sebaliknya, kalau seseorang gagal menghayati bahwa dirinya adalah orang yang menumpang di bumi, ia tidak akan pernah bisa menilai perkara-perkara rohani dan Kerajaan Surga. Dalam Efesus 3:8 Paulus menyebut mengenai kekayaan Kristus yang tidak terduga. Kalimat kekayaan Kristus ini tidak boleh dimengerti secara duniawi, seperti kekayaan materi. Sebab Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk “meletakkan kepala-Nya”. Ini menunjukkan kemiskinan secara jasmani. Ia pun mati di atas kayu salib dengan tubuh setengah telanjang. Kekayaan jasmani tidak boleh menjadi ukuran kekayaan Kristus. Kalau ada usaha menjadikannya sebagai ukuran, maka ini merupakan penyesatan terhadap sesama dan pengkhianatan terhadap Tuhan.

Kekayaan dunia tidak boleh mengambil tempat dalam nilai-nilai spiritual sama sekali. Kekayaan Kristus yang tidak terduga juga tidak diukur oleh kehormatan manusia atau segala sesuatu yang dianggap sebagai nilai lebih di mata manusia. Firman Tuhan menyatakan bahwa apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah (Luk. 16:15). Kekayaan Kristsus yang tidak terduga tersebut menunjukkan pengenalan akan Kristus, hikmat dan kebenaran-Nya, mengalami damai sejahtera serta mencapai kesempurnaan karakter seperti Kristus. Kekayaan Kristus pada dasarnya adalah berkat keselamatan, yaitu mengalami hasil dari usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Dengan demikian orang yang memiliki kekayaan Kristus adalah orang-orang yang diubahkan hidupnya sehingga maksud keselamatan itu tercapai, yaitu mengenakan kodrat Ilahi.

Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah orang yang menumpang di bumi adalah orang-orang yang cara memandang dunia ini berubah. Dunia di sini maksudnya adalah hiburan dunia, kekayaan, pasangan hidup, karir, studi, masalah hidup, kehormatan, ketidakadilan dan lain sebagainya. Sikap hati yang diubahkan akan nampak dari seluruh gaya hidup yang diubah secara signifikan. Perubahan tersebut membuktikan bahwa Tuhan Yesus benar-benar hidup dan dialami.

Orang yang menghayati bahwa dirinya menumpang di bumi, hatinya menjadi kuat sebab ia tidak takut lagi kepada apa yang dapat membunuh tubuhnya (Mat. 10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.) Kalau memerhatikan sekilas ayat ini terkesan bahwa kita harus takut kepada Bapa di surga, karena Ia dapat membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Tetapi kalau kita belajar kebenaran tidaklah tepat kalau kita takut akan Allah disebabkan kekuatan-Nya yang dapat membinasakan baik tubuh maupun jiwa ke dalam neraka. Takut kita akan Tuhan haruslah didasarkan pada hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan.

Semakin seseorang mengasihi dan menghormati dengan benar, maka takut akan Tuhan di dalam dirinya semakin benar. Ini adalah takut yang pantas bagi Tuhan. Sama seperti seorang anak takut kepada orang tua, bukan karena orang tua kaya, berpangkat, kuat bisa menghukum dengan hukuman apa saja, tetapi takut karena mengasihi dan menghormatinya. Walau orang tua lebih lemah secara fisik, kurang secara finansial dan rendah secara pendidikan, tetapi anak takut kepada orang tua karena mengasihi dan menghormatinya.

Satu hal yang harus kita perhatikan adalah mengapa Tuhan menyertakan kalimat “yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh ke dalam neraka”? Dalam kalimat ini termuat suatu peringatan atau juga dapat dikatakan sebagai ancaman, bahwa ada realitas neraka. Mengenai realitas ini Tuhan Yesus menyatakannya secara berulang-ulang dalam pemberitaan Injil-Nya (Mat. 5:22,29,30; 10:28; 18:9; 23:15,33 dan lain-lain). Jika Ia menyatakan secara berulang-ulang berarti hal tersebut merupakan sesuatu yang penting yang harus mendapat perhatian orang percaya dengan seksama.
----------------------------------------
Source: www.truth-media.com

How much longer?

Ayat bacaan: Mazmur 13:2
=====================
"Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?"


Ada orang yang tidak begitu masalah dengan menunggu, ada yang menganggapnya benar-benar masalah. Istri saya lahir dari keluarga yang punya masalah dengan menunggu, sedang saya tidak. Walaupun saya bisa merasa bosan kalau sedang menunggu sesuatu, tapi itu bukan sesuatu yang merusak mood. Sedang istri saya tipenya kurang sabaran. Menunggu sedikit saja bisa membuatnya kesal. Saya tahu itu sejak masa pacaran dan memastikan bahwa kalau sudah janji saya tidak akan terlambat. Lebih baik saya yang menunggu ketimbang dia.

Meski reaksi berbeda-beda bagi setiap orang, secara umum menunggu sering dianggap sebagai sebuah kegiatan yang membosankan dan bisa jadi menjengkelkan. Kenapa? Karena selain membuat waktu terbuang, menunggu itu mengandung unsur ketidakpastian sehingga bisa memunculkan perasaan tak tenang atau gelisah.

Sekarang, bagaimana kalau yang ditunggu bukan soal giliran untuk dilayani atau untuk bertemu orang tapi menanti datangnya pertolongan dari Tuhan? Tidak bisa dipungkiri kita semua berharap itu datang secepatnya. Tapi bagaimana kalau jawaban tidak kunjung datang? Satu doa, dua, tiga, kalau Tuhan belum juga menolong, banyak yang kemudian kecewa bahkan putus asa. Banyak orang yang sulit bersabar apalagi kalau sedang berada dalam keadaan terdesak dan tertekan. Di saat seperti itu mereka tidak lagi bisa mengucap syukur, padahal firman Tuhan sudah mengingatkan kita untuk tetap mengucap syukur dalam segala hal karena itulah yang sesungguhnya dikehendaki Allah dalam Kristus. (1 Tesalonika 5:18). Mereka tahu ayat ini, tapi berkata: bagaimana kita bisa mengucap syukur kalau kita sedang tidak berada dalam keadaan baik? Pemahaman manusia akan sebuah ucapan syukur seringkali sempit dengan hanya digantungkan kepada sebuah kondisi, situasi atau keadaan yang sedang dihadapi saja.

Ada masa dimana kita mengalami kesulitan sebagai bagian dari hidup, meski kita sudah mengikuti kehendak Tuhan dengan sebaik-baiknya. Ada waktu kita harus merasakan kesedihan bahkan penderitaan dengan berbagai bentuk. Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu rasa itu menyakitkan kita, dan tidak ada satupun dari kita yang ingin berlama-lama berada dalam perasaan sakit itu. Kita ingin sesegera mungkin lepas. Kalau belum juga, kita bertanya-tanya berapa lama lagi Tuhan akan melepaskan kita, bahkan bisa saja mempertanyakan kenapa Tuhan seolah memalingkan muka dari kita.

Hal yang sama juga dialami oleh banyak tokoh Alkitab dalam berbagai kesempatan, termasuk Daud yang imannya sebenarnya sudah sangat teruji. Suatu kali Daud mengalami pergumulan berat. Semua musuhnya bersorak-sorak mengejeknya, dan ia pun sempat merasa mengalami itu sendirian saja tanpa ada yang peduli, termasuk merasa bahwa Tuhan pun sama, tidak peduli terhadap dirinya. Ia berada dalam titik rendah sampai-sampai Daud berseru: "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?"(Mazmur 13:2). Daud terus bertanya, "Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?" (ay 3).

Dalam tekanan dan penderitaan yang kita alami, sama seperti Daud kita pun sering mempertanyakan hal yang sama. Itu adalah hal yang manusiawi dan mungkin saja terjadi sekali waktu, tapi penting bagi kita untuk tidak membiarkan hal itu berlarut-larut, terus memandang kepada masalah atau bahkan menyalahkan Tuhan.  Daud boleh saja berseru seperti itu dalam keadaan kalut, tapi lihatlah bahwa Daud tidak mau terjebak berlama-lama pada perasaan seperti itu. Daud tidak ingin tenggelam dalam perasaan yang tidak enak lalu putus asa. Daud tidak mau membiarkan perasaannya berlarut-larut lalu kecewa pada Tuhan. Kita bisa melihat bagaimana ia kemudian bangkit dan kembali mengandalkan imannya. Daud percaya bahwa pertolongan Tuhan untuk mengatasi segala perkara, termasuk perkara dirinya dan melepaskannya dari kesesakan hanyalah soal waktu saja.

Lihat bagaimana Daud kembali tegar dan mengubah pola pandangnya. "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku." (ay 6). Daud tahu bagaimana pentingnya ucapan syukur, ia bahkan bisa memerintahkan hatinya untuk bersorak-sorak karena penyelamatan Tuhan yang sebenarnya belum ia dapatkan pada waktu itu. Ia mau bernyanyi karena Tuhan ia katakan TELAH (bukan akan) berbuat baik kepadanya, walaupun sebenarnya situasi yang ia hadapi belum pulih. Inilah sebuah kebesaran iman yang ditunjukkan Daud. Luar biasa bukan? Meskipun ia masih dalam kesesakan, Daud bisa kembali bangkit, memuji Tuhan, bersorak dan bernyayi untukNya dan mengatakan bahwa Tuhan telah berbuat baik kepadanya.

Apa yang membuat Daud yang notabene juga manusia sama seperti kita bisa berkata demikian? Saya percaya Daud bisa seperti itu karena tidak melupakan pengalaman hidupnya. Disaat ia masih sangat muda ia sudah mampu mengalahkan raksasa Goliat dengan mengandalkan imannya kepada Tuhan.

Kemudian mari kita lihat siapa Daud itu. Daud tadinya bukan siapa-siapa, ia bahkan tidak dipandang ayahnya sendiri ketika Samuel hendak mengambil salah satu dari anaknya untuk menjadi raja. (1 Samuel 16:1-13). Daud hanyalah seorang anak yang tidak dianggap penting yang hanya dipercaya untuk menggembalakan kambing domba. Tapi lihatlah ternyata ia dipilih Tuhan untuk menjadi raja Israel. Dari padang rumput ke singgasana di istana, dari bukan siapa-siapa menjadi raja yang dikenang sepanjang masa, bahkan dikatakan jelas di dalam Alkitab bahwa si anak yang tadinya tidak ada apa-apanya ini merupakan figur yang melakukan kehendak Allah pada zamannya (Kisah Para Rasul 13:36). Dalam berbagai kesempatan Daud secara langsung mengalami penyertaan Tuhan atas hidupnya dalam begitu banyak kesempatan. Jika dulu semua itu mampu dilakukan Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan sekarang tidak bisa menolongnya? Daud menyadari hal itu. Ia sudah mengalami banyak bukti sehingga ia pun bisa bangkit dan kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dalam iman yang kuat.

Di saat kita merasa sendirian menghadapi masalah, mungkin suatu kali kita berpikir seolah Tuhan tega membiarkan kita bergumul seorang diri. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasai kita berlarut-larut. Seperti Daud, segeralah bangkit. Berbaliklah segera dan kembalilah menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, tetap puji dan ucapkan syukur kepadaNya. Percayalah jika dahulu Tuhan sanggup, saat ini pun Dia sanggup, sebab Tuhan tidak tidak pernah berubah. Dalam Ibrani dikatakan "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Apa yang dijanjikan Tuhan sesungguhnya jelas: "..Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5) dan kemudian ayat ini kembali diulang dalam Ibrani: "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Karenanya, "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Dan seperti yang sudah saya sampaikan diatas, "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18).

Ada waktu dimana kita harus mengalami permasalahan yang mungkin menimbulkan penderitaan. Ada waktu dimana kita masih tetap harus bergumul meski sudah mematuhi kehendakNya. Akan ada waktu-waktu dimana kita diijinkan Tuhan untuk masuk ke dalam situasi sulit. Tapi jangan lupa bahwa apabila itu datang bukan dari kesalahan kita, maka ada rencana Tuhan yang indah disana yang mungkin belum bisa kita lihat. Dan ingat pula bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam masa-masa sulit tersebut. Pada waktunya Dia akan mengangkat kita keluar dari tumpukan masalah yang menimbun kita.

Jika diantara teman-teman ada yang masih berada dalam situasi yang tidak baik, bersabarlah dan jangan putus harapan. Nantikan pertolongan Tuhan dengan sabar, tetaplah tekun dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Terus bersyukur dan terus taat menjalankan apa yang menjadi kehendakNya. Pada saatnya anda akan melihat sendiri betapa luar biasa ketika rencanaNya digenapi.

-----------------------------------------------

Source: www.renunganharianonline.com


Sabtu, 18 Februari 2017

Pentingnya SEJARAH

---- Pentingnya Sejarah ----

Ayat bacaan: Mazmur 77:12-13
=========================
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."

Beberapa waktu lalu saat saya iseng memasuki sebuah toko DVD di sebuah mall, saya menemukan DVD boxset original yang isinya tentang sejarah musik. DVD itu terdiri dari 4 keping dengan durasi total lebih dari 10 jam. Bagi saya itu sebuah harta karun yang sangat berharga. Sejarah musik Amerika dari masa awal 1900 an didokumentasikan lengkap dengan beberapa cuplikan foto dan video. Bagi saya yang profesinya sebagai jurnalis musik itu tentu sangat penting. Saya bisa belajar banyak sekali dari keempat keping DVD ini. Saya merasa beruntung karena di sampul depannya ditempel stiker bertuliskan Sale. Berarti harganya pasti miring. Benar saja. Harganya dipotong miring sekali. Sambil membeli saya bertanya kenapa DVD sepenting ini bisa dihargai begitu murah? Si petugas toko menjawab bahwa DVD itu tidak laku. "Jarang ada orang yang suka sejarah mas, daripada tidak laku-laku ya sudah di diskon saja." katanya ringan.

Sejak kecil saya suka dengan yang namanya sejarah, karena saya bisa belajar banyak dari pengalaman orang-orang di masa lalu yang hidup lebih dahulu. Saya bisa melihat kunci sukses mereka, juga kegagalannya. Saya bisa belajar dari kegigihan yang mendatangkan sesuatu yang monumental, tapi juga kemalasan yang membuat mereka harus berakhir sia-sia. Saya belajar tentang orang-orang yang menginspirasi, sebaliknya juga tentang orang-orang yang dikenang lewat keburukan perilakunya. Orang-orang yang mengambil keputusan-keputusan yang benar dan orang-orang yang menambah catatan buruk dunia karena keputusan-keputusan buruk mereka yang fatal. Sebuah DVD berisi sejarah panjang musik seperti ini akan membuat saya tahu apa yang terjadi di masa lalu. Itu akan menjadi sebuah kepingan puzzle yang kalau dirangkai dengan peristiwa saat ini akan menghasilkan sebuah gambaran komprehensif dan menarik tentang bagaimana musik berevolusi dari masa ke masa. Bukankah itu sesuatu yang sangat berharga?

Sebuah pertanyaan pun hadir. Sepenting apakah sejarah itu bagi kita? Ada banyak siswa yang tidak suka pada pelajaran sejarah, saya pikir karena di sekolah pelajaran itu lebih banyak sifatnya hafalan. Padahal sejarah bisa berfungsi sebagai jendela untuk melihat segala sesuatu yang menjadi pengalaman orang lain, baik atau buruk. Dan itu bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan ke depan. Bukan saja dari pengalaman orang lain, tapi kita pun sebenarnya bisa belajar dari masa lalu kita sendiri. Kita bisa melihat bagaimana sampai kesuksesan itu hadir pada kita dahulu, atau jika dari kegagalan yang pernah terjadi dalam hidup kita, setidaknya kita bisa belajar agar tidak jatuh lagi ke lubang yang sama dan tahu harus bagaimana untuk lebih baik.

Dalam menghadapi hidup yang penuh tantangan ini suka atau tidak suka kita harus banyak belajar dari para pendahulu kita dan hal-hal yang telah mereka alami. Benar, kita memang harus selalu menatap ke depan dan meninggalkan pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu yang berpotensi untuk menghambat langkah kita. Tapi di sisi lain sungguh penting pula untuk belajar dari apa yang telah terjadi di masa lalu. Misalnya Ketika kita berada dalam kesesakan dan merasa bahwa Tuhan seolah-olah seperti meninggalkan kita sendirian menghadapi semuanya, kita bisa menoleh sejenak ke belakang untuk melihat bahwa ada begitu banyak kemuliaan Tuhan Dia nyatakan dalam berbagai kesempatan. Mukjizat-mukjizatNya yang ajaib, berkat-berkatNya, penyertaanNya yang begitu setia, kasihNya yang luar biasa yang ternyata mampu membuat sesuatu yang besar, semua itu tercatat dengan jelas dalam Alkitab. Tidak saja berhenti sampai disitu, tapi sesungguhnya kuasa  Tuhan masih pula berlangsung hingga hari ini, dan itu semua nyata adanya. Kita pun mungkin sudah pernah mengalaminya dan bisa mempergunakan itu dalam menghadapi kesulitan saat ini.

Pemazmur menyadari pentingnya melihat kembali bagaimana kuasa Tuhan mampu membawa perbedaan yang luar biasa dari pendahulunya. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:1-13). Pemazmur mengambil waktu untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah di lakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNya turun atas manusia. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, pemazmur pun berseru: "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?" (ay 14).

Seperti itulah seharusnya fokus kita dalam menjalani hidup termasuk berbagai kesulitan yang menghampiri kita di dalamnya. Jika kita fokus hanya kepada penderitaan kita saja maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun bisa merosot drastis. Daripada seperti itu, alangkah baiknya apabila kita kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, maka hari ini pun Tuhan bisa, karena Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang maupun selamanya. (Ibrani 13:8)

Seluruh isi Alkitab mencatat bagaimana perbuatan-perbuatan Tuhan yang telah nyata tertulis di dalamnya. Disana kita bisa melihat kisah begitu banyak tokoh dalam mengalami kuasa Tuhan. Paulus mengingatkan bahwa ada masa-masa dimana penderitaan akan menghampiri kita, bahkan aniaya sekalipun. Orang jahat akan semakin jahat dan saling menyesatkan. Menghadapi itu semua, hendaklah kita tidak menjadi kehilangan harapan dan patah semangat. Kita diingatkan untuk terus berpegang kepada kebenaran, dan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepada kita. (2 Timotius 3:14). "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (ay 15).

Paulus juga menekankan bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (ay 16). Hal ini sangatlah penting. Dengan memahami ini, kita bisa memperlengkapi diri kita untuk hidup tegar menghadapi kesulitan tanpa harus kehilangan iman kita. Pesan yang sama diberikan Paulus pula kepada jemaat Roma. "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4).

Alkitab berisi begitu banyak hal yang dapat kita jadikan tuntunan bagaimana kita harus berlaku ketika kita menghadapi sesuatu. Kita bisa mendapatkan berbagai tips dan peringatan agar tetap hidup sesuai kehendak Tuhan. Disana kita bisa mendapat penghiburan yang meneguhkan. Kita bisa belajar dari begitu banyak pergumulan tokoh-tokoh di dalamnya, dimana sebagian besar pergumulan itu kita alami juga hari ini. Para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab kita bisa belajar lewat bagaimana mereka menyikapi situasi sulit tersebut hingga akhirnya kemuliaan Tuhan hadir dalam diri mereka, melepaskan mereka dan memberi mereka kemenangan. Ada pula tokoh-tokoh yang akhirnya gagal, dan kita pun bisa belajar mengapa mereka akhirnya gagal. Semua itu bisa kita jadikan pelajaran berharga, menjadi bekal yang sempurna dan lengkap untuk menata hidup kita dalam terus melangkah.

Sesulit apapun kondisi yang tengah anda hadapi hari ini, berhentilah terbenam dalam keputus-asaan. Bangkitlah dan ingatlah bahwa ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari pengalaman-pengalaman para tokoh di Alkitab bersama Tuhan di masa lalu. Pergulatan dan turun naiknya iman banyak tokoh jelas dituliskan dalam Alkitab dan itu akan sangat baik untuk kita jadikan pelajaran. Jika mereka bisa mengalaminya, kenapa kita tidak? Tuhan tetap sama, dulu sekarang dan sampai selamanya. Selain itu kita bisa belajar dari apa yang pernah kita alami sendiri, lewat pengalaman orang tua kita, orang-orang terdekat atau kesaksian-kesaksian banyak orang yang mengalami mukjizat Tuhan di masa kini.

Jika kita mau membuka mata untuk melihat semua ini, kita pun akan tahu bahwa Tuhan mampu melakukan segala sesuatu bahkan yang paling mustahil sekalipun. Pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan pemazmur ketika ia mengatakan "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1).

Mengandalkan Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizatNya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama dengan Dia yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kita.
-------------------------------------------------

Source: www.renunganharianonline.com

Senin, 13 Februari 2017

Hidup dalam kendakNYA

Kalau jujur, maka kita dapat menemukan betapa sudah terlalu lama kita terbiasa hidup dalam berbagai hasrat dan keinginan diri sendiri, yang mana hal ini kita anggap sebagai suatu kewajaran. Tetapi kalau kita mengerti dan menerima bahwa kehidupan ini diciptakan oleh suatu Pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan, maka kita harus mulai mempertimbangkan dengan serius apakah gaya hidup kita sesuai dengan Tuhan..

Dalam kehidupan ini, kehendak Tuhan-lah yang harus berdaulat secara penuh. Kita sebagai hamba-hamba-Nya memberi diri tunduk di bawah kedaulatan dan otoritas-Nya secara penuh. Manusia memang dirancang untuk ini sejak manusia diciptakan. Sebelum kita ada dalam situasi di mana segala keinginan dipaksa harus ditanggalkan, yaitu ketika ada di ujung maut, sejak sekarang kita sudah harus belajar dengan rela dan sukacita menanggalkan segala keinginan dan mengenakan prinsip: makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaaan-Nya (Yoh. 4:34). Inilah gaya hidup yang Tuhan Yesus ajarkan. Dan setiap orang percaya wajib hidup sama seperti Dia hidup (1Yoh. 2:6).

Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan, tetapi mengisi jiwa kita dengan keinginan Tuhan semata-mata. Ini akan membuka kesempatan di mana kehendak Tuhan-lah yang menguasai kehidupan kita. Dalam hidup ini, kita hanya mau melakukan kehendak-Nya. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Dengan kesediaan menanggalkan segala keinginan bukan berarti kemanusiaan kita hilang. Kita tetap sadar, bahwa kita tidak pernah menjadi siapa-siapa, kita tetap manusia dengan segala unsur kemanusiaan yang tidak pernah lenyap. Dalam hal ini, Tuhan akan mengijinkan kita menikmati kesenangan-kesenangan sebagai manusia dengan berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi kita. Baik berkat jasmani maupun berkat rohani. Di satu pihak kita melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan, sisi yang lain kita tetap menjadi manusia dengan menikmati segala kesenangan yang Tuhan berikan dalam batas tertentu dan dalam kendali Roh Kudus.

Orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus menyadari dan menerima bahwa yang berhak memiliki visi atau cita-cita adalah Tuhan, bukan manusia. Oleh sebab itu anak Tuhan yang mengerti hal ini tidak akan mudah mengatakan “aku punyai visi atau cita-cita”, sebab hidupnya hanya untuk melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bukan cita-citanya sendiri. Dalam suratnya Paulus menulis: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).

Tidak sedikit orang Kristen yang hidupnya berada di bawah pengaturan diri dan keinginannya sendiri. Sebenarnya orang-orang seperti ini tanpa sadar disesatkan oleh roh-roh jahat, sehingga mereka tidak mengalami rencana Allah yang digenapi dalam hidup mereka. Dalam kehidupan pribadi, tidak banyak orang yang mendiskusikan rencana-rencana, cita-cita dan keinginan-keinginan hatinya dengan Tuhan. Banyak orang berjalan sesuai dengan selera, perhitungan dan keinginannya sendiri dalam berbagai kasus, seperti membeli suatu barang, sekolah, jodoh, pindah rumah, bisnis, tempat kerja dan lain lain.

Menurut pemikiran kebanyakan orang modern sekarang ini, pikiran manusialah yang utama dan manusia itu sendiri yang berhak bertindak mandiri (independent). Irama hidup seperti ini sudah merupakan irama hidup manusia pada umumnya. Berkenaan dengan hal ini, Tuhan melalui Yakobus menasihati kita agar kita tidak melupakan Tuhan dalam perencanaan (Yak. 4:13-17). Kerendahan hati ternyata juga diukur oleh ukuran sejauh mana seseorang melibatkan Tuhan dalam segala perencanaan. Sikap ini sesungguhnya merupakan sikap yang mengakui bahwa Allah adalah Allah semesta alam yang menentukan segala sesuatu dan berkuasa menyelesaikan segala sesuatu. Oleh sebab itu setiap rencana kita harus dimulai dengan kalimat: Bila Tuhan menghendakinya. Sebagaimana Tuhan Yesus hidup hanya untuk kepentingan Bapa dan hidup di dalam kehendak dan rencana Bapa, demikian pula seharusnya hidup kita. Makanan kita adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
----------------------------------------------
Source: www.truth-media.com

Sabtu, 28 Januari 2017

Kesempurnaan dalam KRISTUS


Kesempurnaan dalam Kristus. [Kolose 1:28]

Apakah engkau tidak merasakan di dalam jiwamu bahwa kesempurnaan tidak ada di dalam dirimu? Bukankah hal tersebut diajarkan setiap hari? Setiap air mata yang menetes dari matamu, menangiskan “ketidak-sempurnaan;” setiap kata kasar yang keluar dari bibirmu, mengatakan “ketidak-sempurnaan.” Engkau terlalu sering membayangkan di dalam hatimu mendambakan suatu saat kesempurnaan di dalam dirimu sendiri. Namun, di tengah kesadaran akan ketidak-sempurnaan yang menyedihkan ini, ada penghiburan bagimu—engkau dipimpin “kepada kesempurnaan dalam Kristus.” [Kolose 1:28] Dalam pandangan Allah, engkau “dipenuhi di dalam Dia;” [Kolose 2:10] bahkan sekarang engkau [memiliki] “kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya” [Efesus 1:6] Tetapi ada juga kesempurnaan kedua, yang belum terpenuhi, yang merupakan kepastian bagi semua benih. Bukankah sangat menyenangkan menanti waktu ketika setiap noda dosa dihapuskan dari orang percaya, dan dia akan ditampilkan sebagai tak bersalah di hadapan takhta, tanpa noda, ataupun kerutan, atau semacamnya? Gereja Kristus akan menjadi sangat murni, bahkan mata Sang Mahatahu tidak akan melihat noda atau kotoran di dalam diri gereja tersebut; sangat suci dan sangat mulia, bahkan Hart sungguh benar saat ia berkata— “Dengan memakai jubah Juru Selamatku, Kudus seperti Sang Mahakudus.” Saat itu kita akan mengetahui, dan mencicipi, dan merasakan kebahagiaan di dalam kalimat yang luas tetapi singkat ini, “kesempurnaan dalam Kristus.” [Kolose 1:28] Sampai saat itu terjadi, kita baru akan bisa memahami ketinggian dan kedalaman keselamatan dari Yesus dengan sepenuhnya. Bukankah hatimu melompat kegirangan saat memikirkan hal itu? Walaupun sekarang engkau sangatlah hitam, engkau akan menjadi putih suatu hari; Walaupun sekarang engkau sangatlah kotor, engkau akan menjadi bersih. Oh, betapa luar biasa keselamatan itu! Kristus mengambil seekor cacing dan menjadikannya malaikat; Kristus mengambil barang yang hitam dan rusak dan menjadikannya bersih dan mulia tiada banding, cantik tanpa tandingan, dan pantas menjadi pendamping para serafim. Oh jiwaku, berdirilah dan kagumilah kebenaran penuh berkat tentang kesempurnaan dalam Kristus.

____________________
Sumber:
Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

Kamis, 13 Oktober 2016

JANGAN LUPA MENGUCAP SYUKUR

Ayat bacaan: Filipi 4:6
=======================
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

"Ayo, bilang apa sama tante?" kata teman saya kepada anaknya yang masih berusia kurang dari 3 tahun saat pramusaji menghidangkan mekanan di mejanya. Pramusaji itu sambil tersenyum menanti respon si anak. Dan sambil malu-malu, anaknya kemudian berucap, "terima kasih tante." Pramusaji kemudian membalas sambil tersenyum lalu beranjak pergi. Sebagai orang tua tentu harus mengajarkan anaknya untuk mengucapkan terima kasih saat menerima sesuatu dari orang lain. Anak kecil tidak mengerti dan tidak akan bisa melakukannya tanpa diajar. Maka orang tualah yang harus mendidik sejak di usia dini sehingga mereka terbiasa untuk mengapresiasi perbuatan atau pemberian yang baik dari orang lain kepada mereka.

Bagi anda yang sudah punya anak, senangkah anda apabila si anak setiap hari hanya terus meminta tanpa mengucapkan atau menunjukkan rasa terima kasihnya? Saya yakin anda akan kecewa atau bahkan kesal karena melihat si anak sepertinya tidak kunjung puas dan tidak menghargai pemberian orang tuanya. Sebaliknya, orang tua biasanya akan luluh hatinya saat si anak menunjukkan penghargaan dan terima kasih mereka sebelum meminta sesuatu lagi. Kalau anak-anak saja tidak elok kalau begitu, apalagi kalau orang yang sudah dewasa. Hanya mengeluh, hanya meminta tapi tidak tahu berterima kasih. Itu tentu mengesalkan sekali.

Hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan, seperti apa bunyi doa yang kita panjatkan setiap hari kepada Tuhan? Kebanyakan orang hanya mengisi doanya dengan daftar permintaan, keluhan dan hal-hal lain yang dirasa perlu agar hidup bisa menjadi lebih baik. Minta lepas dari masalah, minta sembuh dari sakit, dan minta lain-lainnya termasuk minta barang-barang yang sebenarnya tidaklah terlalu diperlukan. Begitu hidup jadi baik dan lengkap, maka doa pun jarang dilakukan. Buat apa? Toh semua sedang berjalan aman. Begitu pikiran mereka. Lantas begitu masalah muncul lagi, maka doa pun kembali hadir berisikan wishlist atau permintaan agar kiranya Tuhan menolong mereka keluar dari masalah.

Seperti yang saya sampaikan tadi, coba bayangkan seandainya orang yang anda kenal hanya datang mengunjungi anda karena ingin meminta sesuatu, atau omongannya hanya berisi keluhan, protes atau hal-hal sejenis lainnya. Tidak kah anda akan kesal dan malas bertemu dengan mereka? Kita sering melupakan hal tersebut dan mengira bahwa doa hanyalah merupakan sarana dimana kita bisa meminta sesuatu, mengeluh atau menyampaikan berbagai keberatan kita dalam menjalani hidup. Salahkah meminta apa-apa dari Tuhan? Tentu saja tidak. Apakah kita tidak boleh secara jujur mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan? Tentu saja boleh. Kapanpun kita boleh datang kepadaNya untuk itu. Tapi kita harus berpikir bijaksana dan dewasa. Jangan biarkan doa kita hanya berisi permintaan dan keluhan saja. Itu tidak baik, itu tidak akan menyukakan Allah.

Kita sebenarnya sudah diingatkan agar senantiasa mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur. Ayat bacaan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas."Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Menyertakan ucapan syukur dalam doa merupakan hal penting untuk diingat karena pada kenyataannya ada banyak di antara kita yang lupa untuk mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur,

 Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh, yang berasal dari lubuk hati kita yang terdalam? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya, hanya basa basi saja sifatnya atau hanya karena keharusan sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan doa yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir. Tuhan mau kita mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, berasal dari kecintaan kita kepadaNya, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Tuhan ingin rasa sukacita dalam diri kita tidak hilang dalam keadaan apapun, dan rasa sukacita itulah yang memampukan kita untuk bisa menaikkan puji-pujian dan rasa syukur kita tanpa terpengaruh kondisi atau situasi apapun yang sedang kita alami.

Ayat bacaan: Filipi 4:6
=======================
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

"Ayo, bilang apa sama tante?" kata teman saya kepada anaknya yang masih berusia kurang dari 3 tahun saat pramusaji menghidangkan mekanan di mejanya. Pramusaji itu sambil tersenyum menanti respon si anak. Dan sambil malu-malu, anaknya kemudian berucap, "terima kasih tante." Pramusaji kemudian membalas sambil tersenyum lalu beranjak pergi. Sebagai orang tua tentu harus mengajarkan anaknya untuk mengucapkan terima kasih saat menerima sesuatu dari orang lain. Anak kecil tidak mengerti dan tidak akan bisa melakukannya tanpa diajar. Maka orang tualah yang harus mendidik sejak di usia dini sehingga mereka terbiasa untuk mengapresiasi perbuatan atau pemberian yang baik dari orang lain kepada mereka.

Bagi anda yang sudah punya anak, senangkah anda apabila si anak setiap hari hanya terus meminta tanpa mengucapkan atau menunjukkan rasa terima kasihnya? Saya yakin anda akan kecewa atau bahkan kesal karena melihat si anak sepertinya tidak kunjung puas dan tidak menghargai pemberian orang tuanya. Sebaliknya, orang tua biasanya akan luluh hatinya saat si anak menunjukkan penghargaan dan terima kasih mereka sebelum meminta sesuatu lagi. Kalau anak-anak saja tidak elok kalau begitu, apalagi kalau orang yang sudah dewasa. Hanya mengeluh, hanya meminta tapi tidak tahu berterima kasih. Itu tentu mengesalkan sekali.

Hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan, seperti apa bunyi doa yang kita panjatkan setiap hari kepada Tuhan? Kebanyakan orang hanya mengisi doanya dengan daftar permintaan, keluhan dan hal-hal lain yang dirasa perlu agar hidup bisa menjadi lebih baik. Minta lepas dari masalah, minta sembuh dari sakit, dan minta lain-lainnya termasuk minta barang-barang yang sebenarnya tidaklah terlalu diperlukan. Begitu hidup jadi baik dan lengkap, maka doa pun jarang dilakukan. Buat apa? Toh semua sedang berjalan aman. Begitu pikiran mereka. Lantas begitu masalah muncul lagi, maka doa pun kembali hadir berisikan wishlist atau permintaan agar kiranya Tuhan menolong mereka keluar dari masalah.

Seperti yang saya sampaikan tadi, coba bayangkan seandainya orang yang anda kenal hanya datang mengunjungi anda karena ingin meminta sesuatu, atau omongannya hanya berisi keluhan, protes atau hal-hal sejenis lainnya. Tidak kah anda akan kesal dan malas bertemu dengan mereka? Kita sering melupakan hal tersebut dan mengira bahwa doa hanyalah merupakan sarana dimana kita bisa meminta sesuatu, mengeluh atau menyampaikan berbagai keberatan kita dalam menjalani hidup. Salahkah meminta apa-apa dari Tuhan? Tentu saja tidak. Apakah kita tidak boleh secara jujur mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan? Tentu saja boleh. Kapanpun kita boleh datang kepadaNya untuk itu. Tapi kita harus berpikir bijaksana dan dewasa. Jangan biarkan doa kita hanya berisi permintaan dan keluhan saja. Itu tidak baik, itu tidak akan menyukakan Allah.

Kita sebenarnya sudah diingatkan agar senantiasa mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur. Ayat bacaan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas."Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Menyertakan ucapan syukur dalam doa merupakan hal penting untuk diingat karena pada kenyataannya ada banyak di antara kita yang lupa untuk mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur,

 Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh, yang berasal dari lubuk hati kita yang terdalam? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya, hanya basa basi saja sifatnya atau hanya karena keharusan sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan doa yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir. Tuhan mau kita mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, berasal dari kecintaan kita kepadaNya, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Tuhan ingin rasa sukacita dalam diri kita tidak hilang dalam keadaan apapun, dan rasa sukacita itulah yang memampukan kita untuk bisa menaikkan puji-pujian dan rasa syukur kita tanpa terpengaruh kondisi atau situasi apapun yang sedang kita alami.
----------------------------------------------------
Source: www.renunganharianonline.com